Harimau Kuranji di Galeri Arsip Statis
Berita

Harimau Kuranji di Galeri Arsip Statis

Publis : 22 Desember 2015

187x dibuka

Upaya pengumpulan bukti sejarah akan terus dilaksanakan Kantor Arsip, Perpustakaan dan Dokumentasi (KAPD) Kota Padang. Ini merupakan bagian dari tugas pokok KAPD sebagai lembaga ditingkat Kab/Kota dibidang kearsipan. Seperti amanat dalam UU No. 43/2009, bahwa arsip adalah rekam peristiwa/kegiatan dalam berbagai bentuk dan media sesuai dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Sedangkan sejarah itu sendiri relevan dengan pengertian arsip statis, yaitu arsip yang dihasilkan oleh pencipta arsip karena memiliki nilai guna kesejarahan.

Sejarah memang perlu pembuktian, didukung data-data yang akurat, disampaikan oleh pelaku sejarah, dan sarat dengan makna kekinian. Alternatif paling tepat agar sejarah itu bukan sekedar cerita adalah melalui arsip, yaitu bukti yang tertulis dalam bentuk tekstual, elektronik dan media lainnya.

Sejarah tanpa data dan fakta yang aktual adalah keniscayaan. Dapat menjurus pada kebohongan. Sejarah jika dipaksakan kebenarannya tanpa data dan fakta aktual ini hanya akan melahirkan pembodohan regenerasi. Diterima namun kurang bermakna. Banyak contoh yang kita ambil, misalnya Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar) seperti diberitakan oleh www.merdeka.com (23 Februari 2015); Setelah runtuhnya kekuasaan Soeharto, banyak yang mengungkap mengenai kisah di balik munculnya Supersemar. Butir-butir di dalam Supersemar ternyata disalahtafsirkan Soeharto sebagai penyerahan wewenang pimpinan pemerintahan. Ada pula yang meragukan mengenai keaslian dari Supersemar yang dipegang Soeharto dengan yang diberikan oleh Soekarno. Salah satu dari trio jenderal itu (Brigjen Muhammad Jusuf, Mayjen Basuki Rachmat dan Brigjen Amir Mahmud) diduga menyimpan naskah asli Supersemar. Sayangnya, ketiga jenderal tersebut sudah mangkat dan Supersemar yang asli masih menjadi misteri.

Jawaban terhadap benang merah antara sejarah dan arsip tersebut adalah melalui kegiatan KAPD Kota Padang pada tahun 2015 ini. Penelusuran sejarah Kuranji sebagai Kota Perjuangan, yang diarahkan pada Sejarah Pasukan Harimau Kuranji. Kegiatan ini telah dilaksanakan sejah pertengahan tahun 2015. Dimana KAPD melalui timnya datang dan berkunjung ke tempat kediaman para pelaku dan saksi sejarah. Wilayah yang dituju adalah Kecamatan Kuranji dan Kecamatan Pauh, sebagai yang wilayah yang relevan dengan tujuan kegiatan, dan juga hanya di dua wilayah ini yang masih bisa ditemukan beberapa orang tokoh pejuangan, yang masih hidup sampai saat ini. Disamping itu Tim Penelusuran dibantu oleh Pembantu Lapangan, Pemilik Dokumen/Arsip, Saksi Sejarah dan Penghapal Sejarah.

Munculnya ketokohan Harimau Kuranji ini, dilatarbelakangi pristiwa tanggal 21 Februari 1946. Ahmad Husein bersama barisan – barisan rakyat, pasukan Djamaluddin Wak Ketok, Abdullah Andjang, Maksum dan lain – lain melancarkan serangan serentak atas gudang senjata sekutu di Rimbo Kaluang. Dalam pertempuran itu Ahmad Husein berhasil menghancurkan pos – pos pengawalan musuh dan membongkar gudang senjata Sekutu. Pasukan sekutu banyak yang menjadi korban, berdasarkan laporan dari PMI Kota Padang, pihak sekutu korban mati dan luka – luka 40 orang. Korban di pihak pejuang adalah Kopral Rivai dan Prajurit Bahar yang tidak diketahui kuburanya. Di dalam pertempuran inilah untuk pertama kali terdengar sebutan “The Tiger Of Kuranji”.

Suatu prestasi gemilang telah membuat “tercengang” Pasukan Sekutu, terutama Belanda, yang ingin melanjutkan penjajahan jilid duanya, karena dari segi peralatan perang dan diatas kertas Sekutu dipastikan akan berkuasa kembali. Hal ini bertolak belakang dengan barisan pejuang yang didominasi oleh para pemuda, yang hanya berbekal semangat juang dan persenjataan hasil rampasan dari tentara Jepang. Walaupun pada akhirnya, keberhasilan itu harus ditebus dengan rangkaian serangan balasan Sekutu dan Belanda terhadap. Akumulasi pembalasan Sekutu adalah tanggal 21 Juli 1947, yang kemudian disebut Agresi Pertama.

Sepak terjang, keberhasilan dan kegagalan dalam mempertahankan kemerdekaan yang dilakukan oleh generasi pejuang sebelum kita, sampai saat ini sudah seharusnya dilestarikan sehingga menjadi bukti sejarah sampai generasi berikutnya. Salah satu upaya yang dapat dilaksanakan adalah dengan menelusuri kembali jejak juang itu melalui informasi aktual dari para pelaku sejarah dan saksi sejarah yang masih hidup sampai saat ini.

Seksi arsip dan dokumentasi dalam Program Peningkatan Pelayanan Informasi mengaktualisasinya dengan Kegiatan Penelusuran Sejarah kuranji Sebagai Pusat Perjuangan Kota Padang, kemudian diarahkan terhadap ahli sejarah dan tokoh masyarakat yang mengetahui sejarah Harimau Kuranji. Kegiatan dilangsungkan dalam bentuk kunjungan wawancara dan mengumpulkan bukti (arsip statis). Implisit kegiatan ini adalah melengkapi sisi lain dari sejarah yang sudah ada dan telah dikonsumsi masyarakat, sehingga diperoleh harapan terciptanya tulisan, atau laporan, yang mampu mewakili kebutuhan sejarah perjuangan yang lebih kolektif dan objektif.
Akhir dari kegiatan penelusuran Sejarah Pasukan Harimau Kuranji ini adalah pertemuan KAPD Kota Padang dengan Pelaku Sejarah, Saksi Sejarah, Penghapal Sejarah, Pemilik Dokumen dan Pembantu Lapangan, yang bertempat di Galeri Arsip Statis Kota Padang (21/12).

Dalam sambutannya, Swesti Fanloni, Kepala KAPD Kota Padang, menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk menyelamatkan arsip statis bernilai sejarah sehingga dapat bermanfaat sepanjang masa. Kegiatan ini juga adalah wujud nyata kepedulian Pemko Padang melestarikan nila-nilai sejarah, khususnya Pasukan Harimau Kuranji. Hasil yang diperoleh adalah beberapa koleksi dalam bentuk surat-surat, buku, foto dan peta. Keseluruhan koleksi itu nantinya akan dijadikan referensi bagi warga Kota Padang, terutama dunia pendidikan, agar mengenal lebih dekat sejarah para pendahulunya.

Suatu hal yang sangat menggembirakan adalah kesediaan seorang tokoh, yaitu Warman Datuak Rajo Bujang, Ketua Legiun Veteran Kec. Pauh, menyerahkan sebuah peta, yang sengaja beliau cetak dengan digital printing diatas kanvas berukuran 2 m x 2 m. Pada kesempatan itu Warman mendapat kesempatan menjelaskan bagaimana jalur pernyerbuan markas Sekutu dan Belanda di Rimbo Kaluang.

Turut juga hadir Zulhardi Zakaria Latif, Ketua Komisi IV DPRD Kota Padang. Kehadiran anggota dewan ini sepertinya memberi semangat bagi KAPD untuk terus eksis dibidang kearsipan. Dalam sambutannya, Zulhardi menyampaikan ucapan terima kasih atas kegiatan yang dilaksanakan KAPD. Sangat jarang kita melihat kegiatan seperti ini, mengumpulkan ceceran bukti sejarah yang bagi orang lain mungkin sesuatu yang sia-sia. Untuk itu, Zulhardi akan terus mengawal kinerja kearsipan ini dan berkolaborasi dengan Komisi 4 selaku komisi yang membidangi urusan kearsipan ini.

Dan siapa sangka, seorang tokoh pejuang, dulunya adalah Wakil Komandan Resiman Harimau Kuranji, Moehammad Rasjid, menyempatkan hadir walaupun harus tertatih dengan tongkat dan bekas luka tembak di kaki kanannya yang sudah membengkak. Walau terpaksa duduk di kursi, sedangkan semua hadirin lesehan di lantai, orang tua dengan usia 89 tahun ini tetap semangat mengkuti rangkaian acara yang diadakan.

Diakhir acara, kepada semua narasumber diberikan bantuan tanda ucapan terima kasih.

Ternyata harapan yang bisa ditumpangkan pada hari ini adalah agar Arsip harus lebih berperan mengumpulkan bukti-bukti sejarah. Tegas dalam menyampaikan kebenaran sejarah. Senantiasa selalu menjadi rujukan bagi semua kalangan yang ingin mengetahui sejarah kota ini.

Acara ditutup dengan foto bersama dan makan bersama. Semoga silaturahmi ini akan berbuah manis dan menghasilkan wahana baru tentang sejarah dan arsip statis.*

Admin :

Kontak & Alamat

Email : arsip@padang.go.id

Telp. / Fax. : +62751-811413

Alamat kantor : Jl. Jend. Sudirman No. 1 Padang - Sumatera Barat